Wasil Conference 2025: Dosen IAIBA turut berpartisipasi

The 1st Annual Conference in Wasatiyah, Social and Locality 2025 yang diselenggarakan oleh Rumah Moderasi Beragama UIN Syekh Wasil Kediri pada 20 November 2025. Acara ini bertempat di Home Theater lantai 4 Perpustakaan UIN Syekh Wasil Kediri. Pembukaan oleh Wakil Rektor 2, Dr. Muhammad Muhaimin, M.Ag  dan Ketua Rumah Moderasi Beragama, Dr. Taufik Alamin, M.Si. Pada acara ini juga dihadiri narasumber yang hebat dan siap berbagi ilmu pengetahuan, terutama terkait tema yang diangkat yaitu “Humanitarian Crisis and Religious Responsibility In The Modern World”.

Narasumber pertama Prof. Masdar Hilmy, S.Ag, M.A, PhD (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya) yang memaparkan materi terkait “The Humanitarian Crises and Religious Responsibility In The Modern World”. Beliau menegaskan bahwa religious responsibility mendorong umat beragama untuk tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi juga mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam tindakan nyata. Ajaran-ajaran agama menuntut penganutnya untuk terlibat aktif dalam penyelesaian krisis kemanusiaan melalui bantuan kemanusiaan, pemberdayaan kelompok rentan, perlindungan hak asasi, serta upaya mengurangi konflik dan diskriminasi. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kolaborasi lintas agama menjadi semakin penting untuk menciptakan perdamaian dan keadilan global. Dengan demikian, krisis kemanusiaan modern tidak hanya menjadi isu geopolitik atau sosial-ekonomi, tetapi juga menjadi ujian moral bagi komunitas keagamaan. Tanggung jawab agama

harus diwujudkan dalam bentuk empati, aksi nyata, serta upaya berkelanjutan untuk membangun dunia yang lebih damai, manusiawi, dan bermartabat bagi semua.

Narasumber kedua Dr. Luthfi Ulfa Ni’amah, M.Kom.I (Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Tulungagung) yang memaparkan materi terkait “Moderasi Beragama, Gender dan Media”. Beliau menegaskan media memiliki peran strategis sebagai agen penyebaran informasi dan pembentuk persepsi publik. Media dapat menjadi sarana efektif untuk mempromosikan moderasi beragama dan kesetaraan gender apabila dikelola secara etis, objektif, dan bertanggung jawab. Namun media juga berpotensi memperkuat stereotip, polemik, atau bias jika tidak disaring dengan bijak. Oleh karena itu, literasi media menjadi kunci dalam memastikan bahwa masyarakat dapat menerima informasi yang sehat dan tidak terjebak pada narasi provokatif atau diskriminatif. Secara keseluruhan, hubungan antara moderasi beragama, gender, dan media membentuk kerangka penting untuk menghadapi tantangan sosial masa kini. Ketiganya harus dikembangkan secara seimbang agar mampu menciptakan masyarakat yang toleran, adil, dan inklusif, serta bebas dari kekerasan simbolik maupun struktural. Selain pemaparan materi, pada acara tersebut dilanjutkan dengan presentasi dari paper terpilih. Dosen IAIBA juga terpilih sebagai presenter dalam acara tersebut antara lain:

Bapak Ilyas Adhi Purba, M.E

Dengan judul paper “Religious Empowerment And Gender Equality

In Islamic Microfinance: Study In Bank Wakaf Mikro”

Bapak Alfet Robi’ Nur Muhammad, M.Ag

Dengan judul paper “Moderasi Inklusif: Taswir Fatwa MUI Tentang

Doa Bersama Paradigma Moderasi Beragama”

Bapak Syaifudin, M.Ag

Dengan judul paper “Wasathiyah Sebagai Paradigma Respons

Kemanusiaan: Relevansi Nilai Moderasi

Dalam Krisis Global Kontemporer”

Dengan berbagai tema yang luar biasa disampaikan Bapak-bapak dosen IAIBA di atas terkait moderasi beragama, wasathiyah dan gender equality semoga dapat menjadi gambaran pemikiran Islam yang wasathiyah dengan nuansa moderasi beragama. Selain itu, semoga dapat menginspirasi teman-teman dosen serta mahasiswa untuk turut berpikir kritis terhadap berbagai isu ditengah masyarakat saat ini.

Leave a Reply